geraff

PHYSICAL CHARACTERISTICS:

The Giraffe is the tallest animal in the world. Males may be 16-18 feet tall and weigh up to 2,000 pounds. Females are usually lighter and about two feet shorter. The giraffe’s front legs are only slightly longer than the back ones, the height of the fore part of the body being largely due to the heavy muscular development of the base of the neck.

The long neck has the usual seven vertebrae of most mammals, although each is greatly elongated. The giraffe’s soup-plate-sized hooves are used as offensive weapons, usually in the defense of the calves. The powerful kick from the front feet can kill a lion.

The giraffe is one of the few ruminant born with horns. Both sexes have horns which are covered with skin. The horns of males are thicker and heavier and are used in fights between males.

The giraffe’s incisor teeth are splayed out in two or three lobes to comb the leaves off shoots. Their long black tongue, which can be extended 18 inches, is used to gather food into the mouth. To compensate for the sudden increase in blood pressure when the head is lowered, the giraffe has very elastic blood vessels and valves in the venous system of the neck.

The Nubian giraffe’s color scheme varies considerably in pattern, but consists of dark-reddish to chestnut brown blotches of various shapes and sizes on a buff ground color. The coloration darkens with age.

The reticulated giraffe has large, four-sided, liver-colored spots separated by a sharply defined network of narrow white lines.

DISTRIBUTION:

Giraffes inhabit savanna country where there are Acacia and climbing leguminous plants. They are found in Africa south of the Sahara to Cape Town. The reticulated giraffe is found in East Africa.

BEHAVIOR:

Giraffes can rest standing, but they often lie down with their legs folded beneath them. The neck is held vertical except during short periods of sleep, usually about five minutes duration, when the head is rested on the rump. When giraffes walk they swing the two legs on the same side of the body at almost the same time. When galloping, the hind legs are brought forward almost together and placed outside the front. Maximum galloping speed is 31-37 mph.

Giraffes form scattered herds. Being a gregarious animal, individuals band together into loose groups for protection against predators. Home ranges in giraffes are large, about 46 sq. miles for adult cows, but smaller in mature bulls, and larger in young males.

geraff

PHYSICAL CHARACTERISTICS:

The Giraffe is the tallest animal in the world. Males may be 16-18 feet tall and weigh up to 2,000 pounds. Females are usually lighter and about two feet shorter. The giraffe’s front legs are only slightly longer than the back ones, the height of the fore part of the body being largely due to the heavy muscular development of the base of the neck.

The long neck has the usual seven vertebrae of most mammals, although each is greatly elongated. The giraffe’s soup-plate-sized hooves are used as offensive weapons, usually in the defense of the calves. The powerful kick from the front feet can kill a lion.

The giraffe is one of the few ruminant born with horns. Both sexes have horns which are covered with skin. The horns of males are thicker and heavier and are used in fights between males.

The giraffe’s incisor teeth are splayed out in two or three lobes to comb the leaves off shoots. Their long black tongue, which can be extended 18 inches, is used to gather food into the mouth. To compensate for the sudden increase in blood pressure when the head is lowered, the giraffe has very elastic blood vessels and valves in the venous system of the neck.

The Nubian giraffe’s color scheme varies considerably in pattern, but consists of dark-reddish to chestnut brown blotches of various shapes and sizes on a buff ground color. The coloration darkens with age.

The reticulated giraffe has large, four-sided, liver-colored spots separated by a sharply defined network of narrow white lines.

DISTRIBUTION:

Giraffes inhabit savanna country where there are Acacia and climbing leguminous plants. They are found in Africa south of the Sahara to Cape Town. The reticulated giraffe is found in East Africa.

BEHAVIOR:

Giraffes can rest standing, but they often lie down with their legs folded beneath them. The neck is held vertical except during short periods of sleep, usually about five minutes duration, when the head is rested on the rump. When giraffes walk they swing the two legs on the same side of the body at almost the same time. When galloping, the hind legs are brought forward almost together and placed outside the front. Maximum galloping speed is 31-37 mph.

Giraffes form scattered herds. Being a gregarious animal, individuals band together into loose groups for protection against predators. Home ranges in giraffes are large, about 46 sq. miles for adult cows, but smaller in mature bulls, and larger in young males.

MAYA KURNIA INDRI SARI QUICKER NASIONAL MASADEPAN

Disetiap kali saya nonton Pertandingan Team Putri Gresik Phonska baik di GOR Tri Dharma Gresik maupun di GOR Ken Arok Malang, setiap kali itu juga saya memperhatikan Pemain Yunior mereka yaitu Maya Kurnia Indri Sari, Terus terang saya sangat kagum dengan Receive maupun pukulan Smashnya. Saya yakin Maya Kurnia Indri bakal menjadi pemain Quicker Nasional yang handal. Dengan tinggi 175 sentimeter dan berat 65 kilogram, cukup ideal untuk seorang Pemain Voli di Indonesia, disamping itu wajahnya yang cantik dan imut-imut. Makin membuat pencinta Voli terkagum-kagum. Jarang loh, ada cewek dengan tinggi 175 mau menjadi pemain Voli, biasanya sih maunya jadi Peragawati.

Maya Kurnia Indri tergabung dalam klub Gresik Phonska, dan menjadi motivator pemain-pemain lain. “Maya Indri memang pemain yang paling cemerlang,” kata penonton di samping-samping saya, mengenai pemain kelahiran Sidoarjo, 17 Februari 1992 itu.

Maya Kurnia Indri memang dipersiapkan oleh tim bola voli Gresik Phonska (Grespho) sebagai pemain masa datang mendampingi Maya Puspita, Dini Indah Sari, dan Novia Artika asal Pacitan, Novi dari Blitar, Sifa Mutia Melina asal Medan, dan Wiwin dari Madura. Tim Voli Grespho masih terus mencari 6 pemain baru guna membangun regenerasi di bawah era Maya Puspita dkk. Tim yang bermarkas di GOR Tridharma Gresik diuntungkan dengan makin bertambahnya jam terbang tiga pemain seniornya di kancah voli internasional dengan keikutsertaan Maya Puspita, Dini Indah Sari, dan Maya Kurnia Indri Sari. Grespho hanya mempunyai Wenny Evitasari sebagai satu-satunya senior quicker. Diharapkan Maya Kurnia Indri sudah bisa tampil lebih baik, dan Grespho tidak perlu mencari quicker lagi. (arfwbs).
Maya berkenalan pertama kali dengan dunia voli sejak masih di bangku kelas 6 sekolah dasar. Awalnya, dia tak terlalu menyukai voli. Ia hanya diajak meramaikan pertandingan antarkampung alias “tarkam” di Sidoarjo, Jawa Timur. Meski setengah hati, dia mampu membawa timnya keluar sebagai juara. 
Di tengah kegembiraan atas kemenangan yang diraih, Maya mendapat kejutan lain. Salah seorang panitia memberikannya uang Rp 50 ribu secara diam-diam. “Ini hadiah tambahan,” bisik Maya menirukan sang panitia saat itu. 
Maya, yang hampir tak percaya dengan hadiah yang diraihnya, merasa senang sekali. Sejak saat itu, dia semakin giat berlatih. Tapi kebenaran cerita di balik uang hadiah itu pun terungkap. “Aku baru tahu belakangan ini kalau uangnya dari ayah,” kata Maya tergelak sekaligus merasa jengkel. 
Maya berkenalan dengan voli lewat ayahnya, Sunadji. Sang ayah memperkenalkan Maya dan kedua anaknya yang lain dengan dunia olahraga sejak kecil. Maya pun bergabung dengan klub voli Sparta Sidoarjo sejak kelas 1 SMP. Saat itu Maya sering merasa tak percaya diri. Tak jarang orang menganggap remeh dirinya. “Orang bilang kaki Maya “letter X”, tak mungkin bisa jadi atlet voli,” ucapnya. Kepercayaan diri Maya pun runtuh. Namun, dukungan ayah dan ibunya, Endra Sri Rahayu, menjadi bahan bakar yang selalu siap menyalakan api semangat dalam dirinya. Maya kini tak lagi peduli dengan omongan miring di seputarnya. 
Kecintaannya dengan dunia olahraga pun berlanjut hingga kini. Menurut sang ayah, Maya mengungkapkan, jika remaja seusia Maya dikenalkan dengan olahraga, tak akan terjerumus dalam pergaulan negatif. Kakak laki-laki Maya juga berkarier sebagai atlet judo di daerahnya.  Kejuaraan pertama Maya adalah Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) saat masih menjadi siswi kelas 3 SMP IV Gresik.Kemenangan timnya atas tim putri Riau membuatnya kian bersemangat berlatih. Saking semangatnya, Maya mengalami cedera pergelangan kaki. Selanjutnya dia tak dapat bermain lagi hingga akhir kejuaraan. Maya menangis karena kecewa. Beruntung timnya mampu keluar sebagai juara. 
Kejuaraan paling berkesan bagi Maya justru saat dia mengikuti Liga Remaja setelah mengikuti Porseni. Maya, yang bergabung dengan klub Petrokimia Gresik, bermain di tim inti saat itu. Tak disangka, para penonton memuji-muji penampilannya dan memanggil-manggil namanya. “Aku senang sekali sekaligus grogi.”
 * * * 
Impiannya menjadi pemain nasional sudah ada dalam genggamannya. Meski paling belia, Maya tak canggung.Karena paling “bungsu”, teman-temannya memanggil Maya dengan sebutan Dedek. Bersama para pemain lainnya, Maya kerap menghabiskan waktu di sela-sela pelatnas dengan berjalan-jalan di pusat perbelanjaan.
Jika tak sedang ingin ke luar asrama, dia lebih memilih menghabiskan waktu beristirahat sambil menelepon sang pujaan hati. Pacar? “Bukan. Mamaku. Aku belum punya pacar. Mau dong dicariin,” ujar dara manis ini tersenyum malu-malu. 
Jika musim ujian tiba, itulah yang bikin kepala sedikit pening. Dia harus bertempur melawan waktu untuk mempersiapkan diri. Ujian yang ditempuh Maya berbeda dengan siswa lainnya. Soal-soal ujian beserta lembar jawaban yang diserahkan Maya diatur oleh SMA Ragunan, sekolah khusus para atlet. 
Selama duduk di kelas 2 SMA, Maya kini semakin jauh dari ruang kelas. Ia tak pernah lagi belajar bersama teman-teman di ruang kelas. Kadang Maya merasa kehidupannya sebagai remaja terampas. “Seharusnya aku lagi kerja kelompok dengan teman-teman, ya?” katanya merenung. Meski sedikit sedih, ia tetap yakin jalan hidupnya ada di lapangan voli. “Aku ingin membahagiakan orang tua,”katanya. 
Maya mempunyai cita-cita terjun di dunia arsitektur bila voli sudah tak membutuhkan tenaganya lagi. Namun, bila itu tak terjangkau, menjadi pegawai bank atau polisi sudah cukup baginya. “Kebanyakan sponsor voli kan dari bank atau kepolisian.
Curhat Maya Kurnia Indri Sari, Pemain yang Jadi Sengketa Sparta-Bank Jatim PDF Print E-mail
Written by koko prasetyo   
Tuesday, 23 December 2008
Jangan Komersialkan Saya

Maya Kurnia Indri Sari gerah dengan polemik yang mengiringi kepindahannya ke tim Surabaya Bank Jatim. Bagaimana perasaan dia sebenarnya?

PASUKAN Surabaya Bank Jatim tengah berpesta seusai kemenangan atas Bahana di pentas Livoli Kamis malam (18/12). Namun, Maya Kurnia Indri Sari tidak bisa sepenuhnya ikut gembira. Quicker muda yang jangkung itu masih terganggu dengan pemberitaan mengenai kepindahannya ke Bank Jatim yang masih dipermasalahkan oleh klub lamanya, Sparta Sidoarjo.

“Aduh, Maya ini juga nggak ngerti maunya mereka itu apa. Maya ngerasa perlu ngomong ini sekarang supaya nggak berlarut-larut. Supaya semua pihak ngerti perasaan Maya,” sambatnya melalui sambungan telepon.

Menurut siswi SMU Manyar, Gresik, itu, dirinya sudah bukan pemain Sparta. Dia mengundurkan diri tiga tahun lalu, tepatnya saat akan membela Petrokimia Gresik (dulu masih bernama Gresik Phonska) di pentas Livoli 2005. Namun, meski tiga kali dia mengirim surat pengunduran diri, semuanya tidak ditanggapi pengurus.

“Karena sudah tiga kali tidak ada tanggapan, mestinya secara administrasi Maya sudah tidak terikat. Maya sudah lepas dari Sparta sejak saat itu,” tuturnya. Namun, saat sudah membela Petro, Sparta masih menggandoli. Petro bahkan dituduh membajak Maya. Gadis yang identik dengan rambut pendek dan pipi tembem itu merasa Sparta belum rela melepasnya.

“Akhirnya, Maya bilang kepada pengurus dan pelatih-pelatih Sparta. Yakni, meskipun secara administratif Maya sudah bukan anggota klub, Maya tetap mau membela Sparta atau Pengcab Sidoarjo setiap ada kejuaraan,” bebernya.

Tapi, lanjut Maya, berhubung Sparta tidak masuk level Divisi Utama Livoli, apalagi Proliga, dia harus berjuang mencari klub lain yang bisa mengakomodasi hasratnya bermain di kasta tertinggi kompetisi voli Indonesia. Setelah Petro, dia pindah ke Bogor Prayoga Unitas dan kini Bank Jatim.

Kendati sudah berkeliling Jawa, dia tidak melupakan Sparta. Dia menuturkan, setiap pulang membela Indonesia di berbagai ajang internasional, dia selalu berkunjung ke Sparta. Saat liburan sekolah dan Lebaran, dia bersilaturahmi ke rumah pelatih-pelatihnya. “Maya nggak lupa kok sama klub yang membesarkan Maya,” ucapnya.

Kini dia merasa sedih karena selain menggandoli, Sparta sepertinya menginginkan uang transfer. Padahal, dia tidak lagi merasa sebagai pemain klub yang berlatih di Alun-Alun Kabupaten Sidoarjo tersebut. Apalagi, banyak pemain Sparta yang lepas begitu saja tanpa dipermasalahkan pengurus.

“Kok mereka sampai segitunya memberati Maya ke Bank Jatim. Apa Maya ini punya mereka? Yang paling berhak atas Maya kan orang tua. Nah, ayah ibu Maya aja mendukung. Maya ini bukan barang, kok dikomersialkan seperti itu? Maya kecewa,” beber gadis yang keluarganya berdomisili di Waru tersebut.

Maya menjelaskan, kepindahannya ke Bank Jatim bukan karena uang, tapi dia memang berniat mengembangkan potensi. Di klub yang dibesut pelatih Tiongkok Huang Mian Cheng tersebut, dia melihat kesempatan untuk berkembang. Bermain bersama nama-nama besar seperti Rianita Panirwan, Ana Yohanna, dan Lilin Lindawati adalah pengalaman tak ternilai.

Sementara itu, Ketua Sparta Hartono membenarkan bahwa Maya pernah mengirim surat pengunduran diri. Tapi, dia membantah pengurus tidak menanggapinya. “Surat dia sudah kami balas. Intinya, dia tidak boleh pindah ke klub lain yang masih di lingkup Jawa Timur. Kalau statusnya hanya pinjaman, boleh,” jelasnya. (ko)

Data Diri

Nama: Maya Kurnia Indri Sari

Lahir: Sidoarjo, 17 Februari 1992

Orang tua: Suwaji (ayah)/Endra Sri Rahayu (ibu)

Postur: 174 cm/62 kg

Klub:

Surabaya Bank Jatim (2008-…)

Bogor Prayoga Unitas (2008)

Gresik Phonska (2005-2007)

Sparta Sidoarjo (1999-2005)

MAYA KURNIA INDRI SARI QUICKER NASIONAL MASADEPAN

Disetiap kali saya nonton Pertandingan Team Putri Gresik Phonska baik di GOR Tri Dharma Gresik maupun di GOR Ken Arok Malang, setiap kali itu juga saya memperhatikan Pemain Yunior mereka yaitu Maya Kurnia Indri Sari, Terus terang saya sangat kagum dengan Receive maupun pukulan Smashnya. Saya yakin Maya Kurnia Indri bakal menjadi pemain Quicker Nasional yang handal. Dengan tinggi 175 sentimeter dan berat 65 kilogram, cukup ideal untuk seorang Pemain Voli di Indonesia, disamping itu wajahnya yang cantik dan imut-imut. Makin membuat pencinta Voli terkagum-kagum. Jarang loh, ada cewek dengan tinggi 175 mau menjadi pemain Voli, biasanya sih maunya jadi Peragawati.

Maya Kurnia Indri tergabung dalam klub Gresik Phonska, dan menjadi motivator pemain-pemain lain. “Maya Indri memang pemain yang paling cemerlang,” kata penonton di samping-samping saya, mengenai pemain kelahiran Sidoarjo, 17 Februari 1992 itu.

Maya Kurnia Indri memang dipersiapkan oleh tim bola voli Gresik Phonska (Grespho) sebagai pemain masa datang mendampingi Maya Puspita, Dini Indah Sari, dan Novia Artika asal Pacitan, Novi dari Blitar, Sifa Mutia Melina asal Medan, dan Wiwin dari Madura. Tim Voli Grespho masih terus mencari 6 pemain baru guna membangun regenerasi di bawah era Maya Puspita dkk. Tim yang bermarkas di GOR Tridharma Gresik diuntungkan dengan makin bertambahnya jam terbang tiga pemain seniornya di kancah voli internasional dengan keikutsertaan Maya Puspita, Dini Indah Sari, dan Maya Kurnia Indri Sari. Grespho hanya mempunyai Wenny Evitasari sebagai satu-satunya senior quicker. Diharapkan Maya Kurnia Indri sudah bisa tampil lebih baik, dan Grespho tidak perlu mencari quicker lagi. (arfwbs).
Maya berkenalan pertama kali dengan dunia voli sejak masih di bangku kelas 6 sekolah dasar. Awalnya, dia tak terlalu menyukai voli. Ia hanya diajak meramaikan pertandingan antarkampung alias “tarkam” di Sidoarjo, Jawa Timur. Meski setengah hati, dia mampu membawa timnya keluar sebagai juara. 
Di tengah kegembiraan atas kemenangan yang diraih, Maya mendapat kejutan lain. Salah seorang panitia memberikannya uang Rp 50 ribu secara diam-diam. “Ini hadiah tambahan,” bisik Maya menirukan sang panitia saat itu. 
Maya, yang hampir tak percaya dengan hadiah yang diraihnya, merasa senang sekali. Sejak saat itu, dia semakin giat berlatih. Tapi kebenaran cerita di balik uang hadiah itu pun terungkap. “Aku baru tahu belakangan ini kalau uangnya dari ayah,” kata Maya tergelak sekaligus merasa jengkel. 
Maya berkenalan dengan voli lewat ayahnya, Sunadji. Sang ayah memperkenalkan Maya dan kedua anaknya yang lain dengan dunia olahraga sejak kecil. Maya pun bergabung dengan klub voli Sparta Sidoarjo sejak kelas 1 SMP. Saat itu Maya sering merasa tak percaya diri. Tak jarang orang menganggap remeh dirinya. “Orang bilang kaki Maya “letter X”, tak mungkin bisa jadi atlet voli,” ucapnya. Kepercayaan diri Maya pun runtuh. Namun, dukungan ayah dan ibunya, Endra Sri Rahayu, menjadi bahan bakar yang selalu siap menyalakan api semangat dalam dirinya. Maya kini tak lagi peduli dengan omongan miring di seputarnya. 
Kecintaannya dengan dunia olahraga pun berlanjut hingga kini. Menurut sang ayah, Maya mengungkapkan, jika remaja seusia Maya dikenalkan dengan olahraga, tak akan terjerumus dalam pergaulan negatif. Kakak laki-laki Maya juga berkarier sebagai atlet judo di daerahnya.  Kejuaraan pertama Maya adalah Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) saat masih menjadi siswi kelas 3 SMP IV Gresik.Kemenangan timnya atas tim putri Riau membuatnya kian bersemangat berlatih. Saking semangatnya, Maya mengalami cedera pergelangan kaki. Selanjutnya dia tak dapat bermain lagi hingga akhir kejuaraan. Maya menangis karena kecewa. Beruntung timnya mampu keluar sebagai juara. 
Kejuaraan paling berkesan bagi Maya justru saat dia mengikuti Liga Remaja setelah mengikuti Porseni. Maya, yang bergabung dengan klub Petrokimia Gresik, bermain di tim inti saat itu. Tak disangka, para penonton memuji-muji penampilannya dan memanggil-manggil namanya. “Aku senang sekali sekaligus grogi.”
 * * * 
Impiannya menjadi pemain nasional sudah ada dalam genggamannya. Meski paling belia, Maya tak canggung.Karena paling “bungsu”, teman-temannya memanggil Maya dengan sebutan Dedek. Bersama para pemain lainnya, Maya kerap menghabiskan waktu di sela-sela pelatnas dengan berjalan-jalan di pusat perbelanjaan.
Jika tak sedang ingin ke luar asrama, dia lebih memilih menghabiskan waktu beristirahat sambil menelepon sang pujaan hati. Pacar? “Bukan. Mamaku. Aku belum punya pacar. Mau dong dicariin,” ujar dara manis ini tersenyum malu-malu. 
Jika musim ujian tiba, itulah yang bikin kepala sedikit pening. Dia harus bertempur melawan waktu untuk mempersiapkan diri. Ujian yang ditempuh Maya berbeda dengan siswa lainnya. Soal-soal ujian beserta lembar jawaban yang diserahkan Maya diatur oleh SMA Ragunan, sekolah khusus para atlet. 
Selama duduk di kelas 2 SMA, Maya kini semakin jauh dari ruang kelas. Ia tak pernah lagi belajar bersama teman-teman di ruang kelas. Kadang Maya merasa kehidupannya sebagai remaja terampas. “Seharusnya aku lagi kerja kelompok dengan teman-teman, ya?” katanya merenung. Meski sedikit sedih, ia tetap yakin jalan hidupnya ada di lapangan voli. “Aku ingin membahagiakan orang tua,”katanya. 
Maya mempunyai cita-cita terjun di dunia arsitektur bila voli sudah tak membutuhkan tenaganya lagi. Namun, bila itu tak terjangkau, menjadi pegawai bank atau polisi sudah cukup baginya. “Kebanyakan sponsor voli kan dari bank atau kepolisian.
Curhat Maya Kurnia Indri Sari, Pemain yang Jadi Sengketa Sparta-Bank Jatim PDF Print E-mail
Written by koko prasetyo   
Tuesday, 23 December 2008
Jangan Komersialkan Saya

Maya Kurnia Indri Sari gerah dengan polemik yang mengiringi kepindahannya ke tim Surabaya Bank Jatim. Bagaimana perasaan dia sebenarnya?

PASUKAN Surabaya Bank Jatim tengah berpesta seusai kemenangan atas Bahana di pentas Livoli Kamis malam (18/12). Namun, Maya Kurnia Indri Sari tidak bisa sepenuhnya ikut gembira. Quicker muda yang jangkung itu masih terganggu dengan pemberitaan mengenai kepindahannya ke Bank Jatim yang masih dipermasalahkan oleh klub lamanya, Sparta Sidoarjo.

“Aduh, Maya ini juga nggak ngerti maunya mereka itu apa. Maya ngerasa perlu ngomong ini sekarang supaya nggak berlarut-larut. Supaya semua pihak ngerti perasaan Maya,” sambatnya melalui sambungan telepon.

Menurut siswi SMU Manyar, Gresik, itu, dirinya sudah bukan pemain Sparta. Dia mengundurkan diri tiga tahun lalu, tepatnya saat akan membela Petrokimia Gresik (dulu masih bernama Gresik Phonska) di pentas Livoli 2005. Namun, meski tiga kali dia mengirim surat pengunduran diri, semuanya tidak ditanggapi pengurus.

“Karena sudah tiga kali tidak ada tanggapan, mestinya secara administrasi Maya sudah tidak terikat. Maya sudah lepas dari Sparta sejak saat itu,” tuturnya. Namun, saat sudah membela Petro, Sparta masih menggandoli. Petro bahkan dituduh membajak Maya. Gadis yang identik dengan rambut pendek dan pipi tembem itu merasa Sparta belum rela melepasnya.

“Akhirnya, Maya bilang kepada pengurus dan pelatih-pelatih Sparta. Yakni, meskipun secara administratif Maya sudah bukan anggota klub, Maya tetap mau membela Sparta atau Pengcab Sidoarjo setiap ada kejuaraan,” bebernya.

Tapi, lanjut Maya, berhubung Sparta tidak masuk level Divisi Utama Livoli, apalagi Proliga, dia harus berjuang mencari klub lain yang bisa mengakomodasi hasratnya bermain di kasta tertinggi kompetisi voli Indonesia. Setelah Petro, dia pindah ke Bogor Prayoga Unitas dan kini Bank Jatim.

Kendati sudah berkeliling Jawa, dia tidak melupakan Sparta. Dia menuturkan, setiap pulang membela Indonesia di berbagai ajang internasional, dia selalu berkunjung ke Sparta. Saat liburan sekolah dan Lebaran, dia bersilaturahmi ke rumah pelatih-pelatihnya. “Maya nggak lupa kok sama klub yang membesarkan Maya,” ucapnya.

Kini dia merasa sedih karena selain menggandoli, Sparta sepertinya menginginkan uang transfer. Padahal, dia tidak lagi merasa sebagai pemain klub yang berlatih di Alun-Alun Kabupaten Sidoarjo tersebut. Apalagi, banyak pemain Sparta yang lepas begitu saja tanpa dipermasalahkan pengurus.

“Kok mereka sampai segitunya memberati Maya ke Bank Jatim. Apa Maya ini punya mereka? Yang paling berhak atas Maya kan orang tua. Nah, ayah ibu Maya aja mendukung. Maya ini bukan barang, kok dikomersialkan seperti itu? Maya kecewa,” beber gadis yang keluarganya berdomisili di Waru tersebut.

Maya menjelaskan, kepindahannya ke Bank Jatim bukan karena uang, tapi dia memang berniat mengembangkan potensi. Di klub yang dibesut pelatih Tiongkok Huang Mian Cheng tersebut, dia melihat kesempatan untuk berkembang. Bermain bersama nama-nama besar seperti Rianita Panirwan, Ana Yohanna, dan Lilin Lindawati adalah pengalaman tak ternilai.

Sementara itu, Ketua Sparta Hartono membenarkan bahwa Maya pernah mengirim surat pengunduran diri. Tapi, dia membantah pengurus tidak menanggapinya. “Surat dia sudah kami balas. Intinya, dia tidak boleh pindah ke klub lain yang masih di lingkup Jawa Timur. Kalau statusnya hanya pinjaman, boleh,” jelasnya. (ko)

Data Diri

Nama: Maya Kurnia Indri Sari

Lahir: Sidoarjo, 17 Februari 1992

Orang tua: Suwaji (ayah)/Endra Sri Rahayu (ibu)

Postur: 174 cm/62 kg

Klub:

Surabaya Bank Jatim (2008-…)

Bogor Prayoga Unitas (2008)

Gresik Phonska (2005-2007)

Sparta Sidoarjo (1999-2005)